Sabtu, 18 September 2010

Hal sepele

Seperiti biasa, dihari minggu yang cerah nan biru paling asik bangun lalu menyalakan komputer dilanjutkan membuka jejaring sosial untuk sekedar mengecek status. Tanpa sengaja kursur ini berhenti pada status bertuliskan ANJING!!! hmm.. aneh juga ngeliatnya. kenapa nih orang, ko statusnya ambigu begini. Mungkin baru ngeliat anjing lewat atau mungkin sebuah ungkapan kebencian pada seseorang, yang jelas masih tanda tanya.

Lanjut browsing & buka - buka inbox lalu kembali ke home seketika sudah muncul sebuah komentar menanggapai status tersebut dan ternyata tidak jauh beda dengan status utamanya " lw yang anjing". hmm berarti kemungkanannya kalimat itu memang tertuju ke kemungkinan kedua.

Kejadian ini mengingatkan pada sebuah perbincangan bersama seorang dosen di kampus yang mengatakan bahwa penggunaan tools yang berbeda namun inti pesannya sama bisa sangat berbeda dampaknya.

Misal dalam kasus ini seseorang menulis anjing pada statusnya di facebook bisa berdampak berbeda apabila dia menggunakan gambar anjing di statusnya tersebut. Tapi, semua itu lagi - lagi tergantung konteks, tambah pa dosen menjelaskan. Menurut beliau setiap kebudyaan memiliki pemaknaan tersendiri pada sebuah benda. Mungkin di Amerika gambar dan tulisan keledai bisa bermakna kebodohon, tapi di indonesia belum tentu sama hasilnya sehingga sangat - sangat kontekstual.

Bagi seorang mahasiswa iklan seperti saya tentu hal ini sangat penting untuk diperhatikan. dimana kita harus tahu dan bisa memilih tools mana yang lebih impactfull penggunaannya dalam membuat sebuah iklan apakah menggunakan gambar atau tulisan.

Sebuah pengalaman pribadi ketika membuat sebuah print ad. Sebagai sebuah tim terkadang kami hanya tertuju pada hasil grafis yang sempurna dan apik padahal bisa saja penggunan tulisan dan warna yang sesuai bisa memberi impact yang jauh lebih powerfull. mungkin hal ini yang sering para dosen ingatkan pada kami mahasiswa. Analisis yang kuat dan terus berlatih untuk mencapai sensitifitas dalam berkarya. CMIIW :b

Sabtu, 11 September 2010

Fokuskan dirimu

Sewaktu kita sekolah atau kuliah, murid/mahasiswa di kelas dapat dibagi dalam 3 kategori : murid pintar, murid rata-rata dan murid bodoh. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya masuk ke kategori pertama yaitu murid yang pintar dan menghindari yang terakhir atau murid bodoh. Orang tua seringkali mendaftarkan anaknya untuk kursus ini, kursus itu agar nilai anaknya menjadi bagus. Orang tua sering kali memfokuskan pada kelemahan anaknya dan berusaha menutup kelemahan anaknya itu.

Pada suatu workshop, peserta ditanya: jika anda mempunyai anak yang menyukai menggambar tetapi nilai matematikanya tidak bagus. Keuangan anda hanya cukup untuk membiayai 1 jenis kursus, kursus apa yang akan anda berikan ke anak anda? Hampir semua peserta menjawab : kursus matematika.

Murid yang pintar biasanya adalah tipe yang ngotot dalam belajar, mereka takut kalau tidak bisa mengerjakan ujian, stress jika mendapat nilai buruk. Tipe murid inilah yang biasanya ikut les ini dan itu, karena mau SEMUA pelajarannya mendapat nilai baik. Murid yang bodoh biasanya adalah tipe orang yang masabodoh, mereka tidak terlalu memikirkan akan dapat nilai berapa. Murid tipe ini biasanya mempunyai SESUATU yang sangat mereka sukai dan mereka lebih suka melakukan hal itu daripada belajar. Sedangkan murid rata-rata berada di antara 2 kategori itu.

Di kemudian hari, siapakah yang akan lebih sukses atau kaya dalam kehidupannya? Sukses di sini harus dibedakan dengan kaya. Menjadi kaya berarti mempunyai lebih banyak uang, sedangkan sukses berarti mengerjakan hal yang mereka sukai dan menyukai yang mereka kerjakan, dan orang-orang menghargai apa yang mereka kerjakan. Dalam banyak kasus, banyak murid yang bodoh semasa sekolah dan kuliah menjadi orang yang sukses, dan banyak pula yang menjadi sukses dan kaya. Sedangkan murid yang dulu pintar banyak juga yang menjadi kaya tapi sedikit yang sukses.

Mengapa demikian ? Karena dari kecil murid yg bodoh sudah terbiasa FOKUS kepada KEKUATAN yg dia miliki, dan tidak terlalu peduli dengan kelemahannya. Sedangkan murid yang pintar biasanya TIDAK FOKUS pada sesuatu, terlebih lagi mereka terbiasa mendahulukan perbaikan pada kelemahan

Saya mempunyai rekan yg merupakan contoh nyata dari tipe murid yang bodoh ini. Sebut saja namanya A dan B, keduanya pernah tinggal kelas dan termasuk murid yang tidak perduli dengan nilai bagus, sekarang si A menjadi fotografer professional dg client dari perusahaan-perusahaan terkenal di Indonesia dan si B menjadi montir professional yg disegani di dunia rally mobil. Ambil contoh lain, Deddy Corbuzier semasa sekolah juga tidak termasuk murid yang cemerlang, tetapi sejak kecil telah menunjukkan kecintaan yg mendalam dengan dunia sulap. Sekarang, siapa yang tidak mengenal Deddy Corbuzier. Contoh lain lagi adalah Rhenald Khasali, beliaupun pernah tinggal kelas sewaktu sekolah tetapi sekarang merupakan salah satu pembicara handal.

Di lain pihak, yang dulunya murid yang pintar seringkali berakhir dengan bekerja di kantoran, mungkin mereka menghasilkan banyak uang tetapi belum tentu mereka sukses, karena mereka mungkin tidak terlalu menyukai apa yang mereka kerjakan, hal ini karena dari kecil mereka diarahkan untuk memperbaiki kelemahan dan tidak memperkuat apa sebetulnya kekuatan mereka.

Jika anak anda termasuk dalam kategori anak pintar, jangan terlalu cepat senang dahulu. Tetaplah gali apa yg ia sukai, apa yg dengan senang ia lakukan, berilah support agar ia juga melakukan hal yg ia senangi dan tidak hanya belajar terus menerus. Sedangkan jika anak anda termasuk anak yg bodoh dan lebih menyukai kesenangannya daripada belajar, carilah suatu alasan mengapa belajar itu juga penting untuk mendukung kesenangannya.

Misalnya ia suka sekali dengan dunia otomotif, beri pengertian bahwa seorang ahli otomotif harus mengerti bahasa Inggeris supaya dapat sukses di luar negeri, atau harus mengerti matematika agar nantinya mengerti mesin dengan baik, dsb.

Jika sekarang anda bekerja sebagai seorang karyawan, andapun tentu dibiasakan oleh perusahaan untuk ditambal kelemahannya. Setiap akhir tahun setelah diadakan penilaian prestasi, pasti ada kelemahan si karyawan yang diperhatikan oleh atasan dan kemudian dibuatkan "Plan for Development" dengan mengikutkan karyawan tersebut pada suatu training yang dapat membantu memperbaiki kelemahannya itu, sedangkan untuk kelebihannya hanya diminta untuk dipertahankan.

Mereka yang hanya memfokuskan diri pada memperbaiki kelemahan biasanya lebih sulit menemukan impiannya dibandingkan mereka yang terbiasa fokus pada kekuatannya. Jadi jangan terpaku pada kelemahan anda, fokuskan perhatian anda lebih kepada kekuatan anda.


sumber : Budiman hakim

Industri Periklanan Indonesia Butuh TNI

Oleh : Budiman Hakim – Executive Creative Director MACS909

Sumber : milis creative circle indonesia

Beberapa hari setelah tulisan saya di Adoi dimuat, saya kebanjiran sms, email dan telepon. Isinya sebagian protes, sebagian hujatan dan sisanya pujian. Yang protes dan menghujat merasa saya memojokkan mereka. Yang memuji karena menaruh simpati atau merasa terwakili uneg-unegnya yang terpendam dalam dirinya selama ini.

Yang bikin saya heran, banyak orang kurang menangkap intinya. Sebagian mengira saya menentang keberadaan media spesialis. Sebagian lain menyangka saya lagi mengekspos PHK. Bahkan tanggapan Narga Habib dalam artikelnya di Adoi tidak menyinggung daging tulisan saya. Entah tidak menangkap pesannya tapi tampaknya dia lebih sibuk berpromosi tentang advertising agency-nya sendiri.

Tulisan saya ruang lingkupnya lebih besar daripada itu. Ini masalah industri yang perlu diselamatkan. Karena itulah kita, media advertising, advertising agency, Klien, TV-TV Station, semuanya harus bergandengan tangan menopang industri ini. Saya tidak menentang keberadaan lembaga apapun. Media spesialis dan semua pihak yang terkait dalam industri periklanan indonesia adalah mitra. Jadi, yang saya teriakan adalah Aturan Main bisnisnya atau kalau meminjam istilah orde baru disebut Tata Niaga Iklan (TNI).

TNI lebih baik dari proteksi
Sejak dulu saya berpendapat advertising agency lokal tidak butuh proteksi. Apalagi di jaman globalisasi. Proteksi justru akan memperuncing hubungan antara advertising agency lokal dan agency multinasional. Dan akhirnya akan merembet ke pihak-pihak lainnya. Situasinya akan semakin runyam. Semua orang sudah letih membahas masalah klasik ini. Yang dibutuhkan, sekali lagi, adalah aturan main yang fair. System fee yang jelas. Kompetisi berdasarkan perang harga sangat tidak realistis. Walaupun belum dicek keabsahannya, saya pernah mendengar sudah ada pihak yang menawarkan media fee sampai -2% (Minus 2%). Bayangkan, orang ngasih kerjaan ke kita tapi kitalah yang harus bayar ke mereka. Betul-betul tidak sehat. Semoga berita itu tidak betul.

Kebersamaan itu penting
Meningkatkan industri periklanan indonesia ini agar menjadi sehat adalah kerja kolektif. Selain aturan main dibakukan, yang perlu dimiliki adalah semangat kebersamaan. Dengan kekompakan antara advertising agency, media advertising, Klien, Media House dan semua lembaga terkait lainnya maka industri ini akan maju dan setiap elemennya akan mampu bertahan hidup. Sejak kecil kita sudah diajarkan filosofi sapulidi, bahwa dengan bersatu kita akan menjadi kuat, sebaliknya sebatang lidi amat mudah dipatahkan.

Kebersamaan seperti apakah yang kita butuhkan?
Iim Ibrahim, Finance Director Ogilvy, memberikan ilustrasi yang sangat baik dan mudah dicerna. Begini ceritanya: Dahulu kala di Belanda ada orang Indonesia jualan mie telor yang dia impor dari Indonesia. Dia beli Rp 10, dijual Rp 25. Margin Rp 15. Tentu laku keras karena cuma dia satu-satunya yg mensupply mie telor. Temannya sesama orang Indonesia tergiur dan ikutan jual mie telor. Dia beli Rp 10, namun dia jual Rp 20 untuk menarik konsumen. Tentu laku keras, konsumen tentunya beralih ke harga yang lebih murah. Seterusnya, ada lagi orang Indonesia yg ikutan jual mie telor. Dia banting harga lagi. Ahirnya harga jual mie telor tidak lebih dari Rp 12. Margin hanya Rp 2,-

Dahulu kala juga di Belanda juga, ada orang Thailand jualan Tom Yam Goong, yg bahan-bahannya dia impor dari Bangkok. Dia beli Baht 10, jual Baht 25. Margin Baht 15. Tentu laku keras karena dia satu-satunya yg mensupply Tom Yang Goong. Temannya sesama orang Thai tergiur dan ikutan jual Tom Yang Gung. Namun berbeda dengan orang Indonesia, yang dia lakukan adalah mendatangi orang pertama dan memberitahu bahwa dia akan jualan Tom Yang Goong juga. Maka kedua orang Thai itu sepakat untuk membagi daerah operasi dan harga jual tetap Baht 25. Dan seterusnya... Margin tetap Baht 15.

Kebersamaan seperti inilah yang kita perlukan. Semuanya senang. Semuanya untung. Konsumen ikut senang karena tidak kebingungan dan tidak merasa dibohongi sebab beli di mana pun dikenakan harga yang sama. Etika bisnis seperti inilah yang perlu ada agar industri periklanan bisa berkembang..

Lihatlah esensinya, filosofinya, rohnya. Semangatnya! Janganlah lalu secara membabi-buta menyerang contohnya. Adalah suatu pemikiran yang kerdil bila mendebat dengan mengatakan;” Gile lu ye!!!Ini kan bisnis advertising. Masa disamain sama Mie telor?” Hilang lagi dong esensinya?

TNI didukung semua pihak
Spesialisasi memang membuat sudut pandang jadi berbeda, namun tujuannya bermuara pada satu hal. Semua pihak tanpa kecuali membutuhkan industri yang sehat agar kita bisa berkembang. Inilah sebagian pendapat dari mereka.

Henry Saputra, Presiden direktur Metro-Publicis Indonesia mengirim sms yang bunyinya: "Artikel Anda di ADOI sangat menarik. Sebetulnya advertising agency berhak atas paling tidak 2/3 fee atas dasar komisi atau retainer fee 1 tahun. Andaikan semua klien berpegang pada aturan main ini maka tidak ada masalah bahkan advertising agency bisa lebih profitable tanpa harus mempunyai Media Department. Pekerjaan Rumah besar bagi kita untuk meluruskan masalah ini."

Ricky Pesik, Managing Director Biro Iklan Lokal, Satucitra, juga berpendapat bahwa proteksi bagi advertising agency lokal bukanlah jawaban. Yang harus dikedepankan adalah aturan main yang jelas terutama sistem fee yang teratur. Gimana industri periklanan Indonesia mau berkembang kalau aturannya amburadul?

Dari sisi klien, Erik Meijer, Vice President Marketing Telkomsel juga menggarisbawahi bahwa aturan main memang perlu dibenahi. Bahkan beliau mendukung system royalty fee dijadikan sebagai salah satu pertimbangan, dengan catatan perhitungannya perlu dipikirkan secara cermat.

Anton Ardiantoro dari media advertising spesialis Activate juga mendukung perlunya aturan main yang jelas serta sistem fee yang ideal yang perhitungannya menguntungkan semua pihak.

Niken Rachmad, Ketua APPI (Asosiasi Pengusaha Pengiklan Indonesia), menanggapi artikel saya dengan mengatakan “Aku setuju sekali....Sebenarnya kita juga kadang2 bingung dengan sistem di periklanan Indonesia, terlalu sering berubah. Baik sekali kalau antara specialist groups di dunia periklanan bisa tercapai kata sepakat untuk suatu sistem yang menguntungkan semua pihak. Pada gilirannya nanti klien juga akan diuntungkan.... Bukan begitu?”

TNI harus segera diaktifkan
Triawan Munaf mengaku agencynya selalu memperoleh fee dari media padahal kliennya menggunakan jasa media spesialis. Begitu juga beberapa advertising agency lainnya. Nah…kalau sudah begini kan seharusnya masalahnya tidak susah. Sekarang kita tinggal duduk bareng-bareng, mencari model yang paling baik dan menguntungkan semua pihak…kemudian kita bakukan menjadi standar yang berlaku dalam industri periklanan indonesia ini.

Serah terima pengurus P3I telah dilakukan. Saya berdoa semoga pengurus baru PPPI bisa mengambil kebijakan yang yang cermat sebelum situasi makin memburuk. Kalau pun misalnya harus ada biaya untuk mewujudkan kebijakan itu, rasanya banyak agency yang rela menyumbang PPPI agar kita memiliki TNI yang baik dan mempunyai kekuatan hukum. Industri yang sehat akan membuat kita besar bersama. Dan dunia periklanan, yang kata sementara orang sudah kehilangan fun-nya, akan kembali ke situasi seperti sediakala.

Bila ada komunikasi yang intens di antara kita, saya yakin hal ini bisa dilakukan! Boleh percaya boleh tidak : konon kelemahan orang yang bergerak dalam bidang komunikasi justru dalam hal komunikasi antara mereka sendiri.

Sumber : millis creative circle indonesia / http://zaki-adverthink.blogspot.com/

Hj splitter

Target audience : remaja, suka internetan, uploader freak, jejaring sosial, setiap hari selalu online dan aktif dibeberapa forum mulai dari forum musik, film, hingga software -software. umumnya mereka mendowload software dari source - source gratisan, mereka mengetahui linknya dari forum dan karena forum merupakan tempat berbagi hal inilah yang membuat mereka inign membagi software yang merka miliki. memiliki akses internet dengan kecepatan tinggi dan waktu berinternet yang lama.


alternatif 1 :
Mungkin hal ini sering terjadi pada kita belakangan ini, maklum dulu teknologi informasi belum berkembang pesat. ketika ada tugas, ingin masukin gambar, mengupload data kapasitas yang diberikan tidak memnuhi sehingga prosesnya gagal. tidak perlu khwatir karena sekarang teknologi terlahmampu menjembatani hal tersebut dengan menggunakan software ini file dengan ukuran ratusan bahkan ribuan mega byte isa dibelah - belah sesuai keinginan kita. namanya HJ splitter, soft ini bisa kita daptkan di beberapa website penyedia gratis, file yang dihasilkan berupa rar atau zip sehingga mempermudah kita dalam proses menguploud data. jangan khawatir semua file dbisa dibelah dengan software ini bahkan film sekalipun. tunggu apa lagi segera downloada dan uploud datamu.

alternatif 2 :
berbicara teknologi mungiin sekarang tidak akan terlepas dari internet, bayangkan saja anak berumur tujuh tahun saja sudah mulai rajin mengkases dunia maya tersebut. kemajuan teknologi saat ini memungkinkan semua orang berbagi mulai tak hanya pesan bahkan program dan juga film yang yang kapasitasnya bisa mencapai puluhan giga byte. sayangya ukuran yang besar sering menghambat proses sharing tersebut sehingga wajar orang sering mengurungkan niat membagi pengalamannya krena masalah ukuran ini. mungkin ini kabar baik mereka yang suka membagi data - data mereka di dunia maya tapi bingung mengunggahnya karena masalah ukuran file tersebut. hj spitter program mini ini ukan hanya mampu membagi file dengan format exe tapi juga mampu membagi semua data bahkan film sekalipun jadi buat kita semua yang ingin menggungah data kita segeralah pakai program ini...

alternatif 3 :
belakanganini kecepatan akses internet di indonesia tersu meningkat. untuk mendowload file berukuran puluhan mega byte saja hanya utuh satu deua menit selesai. tak terkecuali kecepatan upload yang juga semakin membaik. namun hal ini ternyata elum berlaku pada batas maksimumfile yang boleh diuploud seseorang di kebnyakan website sat ini sehingga bagi mereka yang suka membagi datanya harus menunggu sampai web tersebut memungkinkan penguploadan data dengan ukuran besar. tidak perlu menunggu lama sekarang telah hadir hjsplitter dimana kita bisa memotong data - data berukuran jumbo menjadi pat - part kecil sehingga memudahkan kita untuk mengunggah data - data yang kita inginkan.

alternatif 4 :

Konstitutif vs konstruktif

oleh Djito Kasilo

Konon, di dunia itu ada ujud konstitusif (semacam kodrat) dan ujud konstruktif (hasil bentukan). “Wanita bisa hamil” atau “kayu bisa terbakar”, adalah realitas konstitusif. Karena emang begitulah adanya. Sedangkan “kulit cerah/putih itu cantik”, adalah realitas bentukan/konstruktif. Bayangkan kalau sejak dulu penguasa dunia adalah bangsa Afrika, mungkin sekarang kita meng-iya-kan bentukan bahwa cantik itu berkulit hitam dan berambut keriting.

Sebagai orang iklan, sebetulnya masalah konstitusif- konstruktif ini bukan hal asing. Toh tiap hari kita bermain2 dengannya. Sejak mecerna insight, kita sudah memilah2 konstitusi dan konstruksi benak target audience. Sampai akhirnya kita lakukan bentukan2 konstruksi baru di benak mereka melalui kata, gambar, suara, theatre of mind, testimony, manipulasi DI, dll.

Seperti halnya tangan, kaki, mata, ataupun telinga, alat kelamin itu sebagai benda yang konstitusif. Tapi istilahnya menjadi masalah konstruktif. Ada bentukan yang membuat kata alat kelamin lebih di-iya-kan dari pada kata kontol. Seperti halnya jaman orba, kata penyesuaian harga lebih di-iya-kan dari pada kata kenaikan harga.

Sebagai milisnya orang2 kreatif periklanan, bukankah lebih menarik mendiskusikan “konstruksi kata” dari pada meributkan kontolnya. Tentu saja kita harus bersikap sedewasa dokter kandungan melihat wanita membuka selangkangan di ruang prakteknya.

Observation and 'Insights'

by Daniel Rembeth

I write this on the eve of Citra Pariwara 2005 in Surabaya. Though I won’t be there, I feel the needs of pouring my heart and thinking to my creative, account management and planner colleagues in the advertising industry.
As a start, recently MPA issued compelling new insights on how and why readers engaged with magazines. It was mentioned that ‘people read magazines to relax’ and valued them because ‘they contain lots of information’… duh

Well, these insights is rank with so many of the great ‘insights’ I’ve been exposed to, and I confess, been done also by yours truly over the years; such as ‘mother likes to take care of her family’ or ‘teens value their independency’ and in numerous occasion ‘Indonesian is open hearted and warm people’. This is not great insights, at best they are interesting truths, or observations.

Think of insights as the statement of understanding to the heart of the problem. Think moments of creativity and profound illumination (something I’ve not had that many in all years I’ve worked in this business)
When you look into the advertising industry, you realize that we have obsessed by insights, particularly of the consumer kind. The process in place and we glorified the functions as the most importance element in the modern strategic thinking. Every single brief now hast to have an insight statement.

In return, we have commoditized the term. There is no quality control, there’s no recognition of how hard they are to come by and what really means to have one. At the same time we put the word on a pedestal. When presented with the insight, how do we argue that, for instance, it’s just a relevant research finding, one piece of the jigsaw that helps us achieve the breakthrough? More often than not, we get stuck working out how to execute this relatively straight forward observation.

Worse, looking for insights has become a process that the consumer is expected to lead. When in fact it is a creative exercise that should be owned by the brand and agency. After all consumer is at the end of recipient chain, and mostly least skilled to help us achieve that goal.

Finally, our obsession with the consumer means we tend to overlook and ignore other areas of inspiration, we forget that the brand we work on, our competition and category, and our CULTURE at large are territories worth investigating.
Let us do start doing it. I certainly hope that before I end my career in the industry, I will a proud witness the glory of one Indonesia’s ad win the grand clio or the golden lion.

Petuah Seorang Balerina

oleh Glenn Marsalim

Suatu siang, saya berkesempatan
untuk ngobrol dengan penari balet terkenal dari Rusia.
Beliau mengunjungi kampus saya.

Rasanya seperti bertemu dengan dewi.
Keriput di wajahnya tak mampu
menutupi keanggunan balerina sejati.
Setiap geraknya adalah keindahan.
Dan yang masih melekat di hati saya
adalah sorotan matanya. Berisi. Berbinar.
Seolah hendak berkata "aku lah bintang!"

Ada beberapa petuah
yang sampai saat ini saya simpan dalam hati.
Tadinya mau saya simpan sendiri.
Tapi kata pepatah cina, semakin banyak ilmu yang kita bagikan,
semakin banyak ilmu didapat.

"Penari yang hebat, akan tetap mencuri perhatian walau Ia dibalik panggung sekalipun."
Kita sering ngamuk kalau ngerasa orang lain
mendapat kredit atas keberhasilan yang kita kerjakan.
"Kok CD naik panggung padahal gue yang bikin tuh iklan..."
Darling, tenang aja lah...
yang bagus akan kelihatan juga pada waktunya.

"Akan sangat menggelikan kalau penari mengikuti gerak lampu sorot.
Biarkan lampu sorotlah yang mengikuti penari yang menari dengan sepenuh hati."
Sering kita, orang iklan,
ngebet pengen cepet-cepet menang award dan menjadi sorotan.
Semua cara dilakukan. Sampe terkadang lupa untuk bekerja dengan sepenuh hati.

"Semua penari bisa melakukan gerakan yang sama.
Tapi alasan di balik gerakan lah yang membedakan.
Menari untuk diri sendiri atau untuk orang lain."
Kita sering bikin kerjaan yang masturbatif.
Lupa kalau kita bikin iklan buat orang lain.
Padahal orang lain lah yang menilai kerjaan kita.

"Di atas setiap panggung hanya boleh ada satu primadona.
Yang lain cuma embel-embel."
Di tengah persaingan orang iklan seperti sekarang...
jadi primadona iklan saya gak tau caranya.
Tapi kerja keras dan belajar sampe mampus sepertinya bisa memuluskan jalan.